Desa Sehat di Kalteng Bukan Mimpi, Dompet Dhuafa Mulai dari Sanitasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Dompet Dhuafa melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) terus memperkuat upaya peningkatan layanan kesehatan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia pada 2025 melalui kolaborasi berkelanjutan dengan sektor swasta.
Inisiatif ini diwujudkan lewat pengembangan program Kawasan Sehat bersama PT Pagatan Usaha Makmur sebagai strategi promotif dan preventif untuk mendorong perubahan perilaku kesehatan masyarakat desa, terutama di Kalimantan Tengah, dengan dampak langsung pada sanitasi, gizi ibu dan anak, serta pengendalian penyakit.
"Program Kawasan Sehat merupakan bagian dari komitmen LKC Dompet Dhuafa yang telah memasuki usia ke-24 tahun dalam memperluas akses layanan kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat," kata Koordinator Program Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dompet Dhuafa Santi Yuniartiningsih dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).
Sebelumnya program ini diterapkan di Desa Subur Indah, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan kembali diimplementasikan di dua wilayah lain, yakni Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, serta Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan.
Dia menjelaskan bahwa Kawasan Sehat dijalankan dengan mengacu pada tujuh indikator utama, yakni kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, sanitasi yang baik, pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular, pengendalian penyebaran tuberkulosis, pengembangan lingkungan hijau produktif, serta penguatan kesehatan mental dan spiritual.
“Alhamdulillah program kerja sama ini sudah berlangsung selama 3 tahun, harapan kami bisa menyehatkan masyarakat tidak hanya dari sisi pelayanannya saja tetapi dari sisi masyarakatnya mencoba menyehatkan pengetahuan masyarakat, jadi kami lebih banyak mengedukasi tapi tujuan kami sama untuk menyehatkan masyarakat Indonesia,” ujar Santi.
Baca Juga
Banjir Longsor di Sumatera, Dompet Dhuafa Bangun Pos Respons Bencana di Sejumlah Titik
Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan kesehatan yang cukup besar, terutama pada aspek sanitasi, penyakit tidak menular, serta status gizi ibu dan anak. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 31,6% masyarakat di provinsi ini belum mampu mengelola sampah rumah tangga dengan baik, sementara 88,3% masih melakukan buang air besar sembarangan atau tidak menggunakan jamban.
Salah satu wilayah dengan kontribusi cukup tinggi terhadap prevalensi masalah kesehatan balita di Kalimantan Tengah adalah Kecamatan Katingan. Desa Jaya Makmur, yang berada di wilayah ini, hanya dapat diakses menggunakan klotok atau perahu motor dengan waktu tempuh sekitar 4–5 jam, mencerminkan keterbatasan akses layanan dasar yang dihadapi masyarakat setempat.
Desa Jaya Makmur dan Desa Satiruk dipilih sebagai lokasi program karena masih dihadapkan pada persoalan sanitasi dasar. Sebagian warga belum memiliki jamban sehat dan masih melakukan buang air besar sembarangan di bantaran sungai. Padahal, sungai tersebut memiliki peran vital sebagai jalur transportasi, sumber mata pencaharian, pengairan sawah, serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari masyarakat.
Kondisi tersebut diperberat oleh karakteristik wilayah Kalimantan Tengah yang memiliki curah hujan relatif rendah, sehingga ketersediaan air bersih menjadi terbatas. Upaya pemenuhan air melalui sumur bor telah dilakukan, namun belum seluruh titik menghasilkan air dengan kualitas layak konsumsi.
Berdasarkan situasi itu, intervensi jamban sehat menjadi fokus utama program sebagai upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk menghentikan praktik buang air besar sembarangan guna melindungi sumber air yang menjadi penopang utama kehidupan warga desa.
Concession Group Manager PT Pagatan Usaha Makmur N Yearda Sirait menyampaikan bahwa program Kawasan Sehat lahir dari visi bersama untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah terpencil. “Harapan kita itu meningkatkan sumber daya manusia inilah kenapa kita menggaet Dompet Dhuafa dalam meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan itu apa, baru kita bikin program-program dari balita sampai dengan lansia bukan hanya manusianya tapi kita ciptakan juga di lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Fasilitator Kawasan Sehat Desa Jaya Makmur Sulrahmi mengungkapkan bahwa dalam empat bulan pendampingan, perubahan positif mulai terlihat di masyarakat. Program yang dimulai pada Mei tersebut difokuskan pada indikator kesehatan ibu dan anak serta eliminasi stunting melalui pencegahan kematian ibu dan bayi, serta peningkatan cakupan air susu ibu eksklusif.
Di Desa Jaya Makmur, sejumlah intervensi telah dilakukan, termasuk pemberian makanan tambahan bagi sekitar 150 bayi dan balita melalui posyandu, kunjungan ibu nifas disertai paket nutrisi bagi lima penerima manfaat, serta pelaksanaan kelas ibu hamil yang diikuti 13 peserta. Hasil pemantauan menunjukkan kasus kekurangan energi kronis dan anemia pada ibu hamil berhasil ditekan hingga nol.
Pendampingan juga diperluas melalui kelas ibu balita yang diikuti 24 ibu, serta pemberian paket nutrisi bagi 48 bayi dan balita malnutrisi yang menunjukkan peningkatan berat dan tinggi badan. Untuk memperkuat pemahaman bahwa stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, dilakukan pula demonstrasi pengolahan pangan bergizi yang diikuti 12.000.
Pada indikator sanitasi, program mendorong perubahan perilaku menuju stop buang air besar sembarangan melalui edukasi kepada 74 warga serta pemberian bahan stimulan pembangunan jamban sehat kepada 26 penerima manfaat. Sementara pada pengelolaan penyakit tidak menular, kegiatan pos pembinaan terpadu, senam sehat, dan edukasi pola hidup sehat telah menjangkau 197 penerima manfaat.
Baca Juga
Dompet Dhuafa dan Tokopedia Salurkan Bantuan bagi Korban Banjir Lubuk Minturun
Program Kawasan Sehat di Desa Satiruk juga diluncurkan secara simbolis melalui penyerahan bahan jamban sehat kepada masyarakat pada Kamis (13/11/2025). Kegiatan ini dihadiri Camat Pulau Hanaut serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, sekaligus menandai keterlibatan mitra kolaborator lain, termasuk First Climate, dalam mendukung pelaksanaan program di wilayah tersebut.
Ke depan, program ini diharapkan mampu mendorong perubahan berkelanjutan, mulai dari perilaku sanitasi masyarakat menuju stop buang air besar sembarangan, pengelolaan sampah rumah tangga, pengendalian penyakit tidak menular, pemantauan kesehatan ibu dan balita, pendampingan pengobatan tuberkulosis, hingga tumbuhnya kesadaran menjaga lingkungan dan kualitas udara.
Melalui pendekatan pemberdayaan yang menitikberatkan pada peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif warga, Kawasan Sehat diharapkan menjadi upaya pencegahan penyakit yang berkelanjutan sekaligus memperluas akses layanan kesehatan yang lebih setara bagi masyarakat pelosok dan kelompok rentan di berbagai wilayah Indonesia.

