Kementerian ESDM Nyatakan Komitmen Impor Energi dari AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan komitmennya untuk mengimpor energi dari Amerika Serikat (AS) termasuk di antaranya minyak mentah (crude oil) dan bahan bakar minyak (BBM).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, sejauh ini kementeriannya tidak berencana membatalkan impor dari AS tersebut. Dia juga menampik isu soal perundingan tarif dagang antara Indonesia AS terancam batal.
Baca Juga
Teknologi PCTGL Topang Produksi Dondang yang Sumbang 40% Minyak Pertamina Sanga Sanga
"Kami dari ESDM itu tetap. Apa yang sudah dikomitmenkan untuk kita impor dari AS, itu tetap akan kita upayakan," ucap Yuliot saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Yuliot menyebutkan bahwa kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dengan AS sedang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Nantinya, pertemuan tersebut juga aman melibatkan kementerian dan lembaga terkait, bukan hanya ESDM saja.
"Jadi nanti Kementerian Koper Ekonomian akan ngajak duduk bersama seluruh Kementerian Lembaga terkait, ya termasuk ESDM," beber Yuliot.
Kesepakatan dagang dengan AS yang disepakati pada Juli 2025 itu sejatinya merupakan kesepakatan timbal balik. Presiden AS Donald Trump bersedia menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Sebagai gantinya, produk AS yang masuk Indonesia tidak dikenakan pajak ekspor.
Dalam kesepakatan dengan AS, sejumlah komoditas Indonesia yang tidak diproduksi oleh mereka akan mendapatkan tarif 0%. Komoditas itu, meliputi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), karet, teh, kopi, serta produk karet lainnya. Sementara, tarif untuk tekstil dan alas kaki masih dalam tahap pembahasan.
Baca Juga
Pemerintah Sudah Punya Strategi Bidik 'Lifting' Minyak 2026 Sebesar 610.000 BOPD, Ini Caranya
Sebagai bagian paket negosiasi, Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk menambah impor dari AS guna menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara, termasuk salah satunya adalah sektor energi.
Indonesia berkomitmen mengimpor energi dari AS senilai hingga US$ 15 miliar, sedangkan impor produk pertanian dari AS ditargetkan mencapai US$ 4,5 miliar.

