Industri Otomotif Kontraksi Minus 10%, Menperin Agus 'Keukeuh' Perjuangkan Insentif di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan pihaknya tetap akan memperjuangkan insentif untuk sektor otomotif. Agus Gumiwang mengungkapkan berdasarkan data, kinerja industri otomotif mengalami kontraksi hingga minus 10%.
"Kemenperin akan terus menunjukkan perhatian khusus kepada sektor otomotif. Sektor ini sangat penting, terlalu penting untuk kita abaikan. Tidak mungkin kita abaikan, ya," ucapnya di acara Link and Match 2025 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Menperin Agus menilai, banyak sekali dampak positif apabila industri otomotif mendapatkan insentif di level produsen, di antaranya akan munculnya nilai tambah bagi ekonomi dalam negeri dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dalam skala yang besar.
Sebelumnya usulan kebijakan dari Kemenperin tersebut ditolak oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto yang menyatakan tidak ada insentif untuk otomotif pada 2026 mendatang.
"Forward, backward linkage-nya luar biasa besar, penyerapan tenaga kerjanya juga luar biasa besar, nilai tambah untuk ekonominya juga luar biasa besar, dan oleh sebab itu, kami akan tetap mengusulkan insentif atau stimulus untuk sektor otomotif," ungkap Menperin Agus.
Baca Juga
Pemerintah Sebut Belum Ada Insentif Baru buat Industri Otomotif
Agus Gumiwang mengaku bisa melihat kegelisahan para pelaku usaha sektor otomotif terhadap pasar dalam negeri. Berdasarkan data, kinerja industri otomotif mengalami kontraksi hingga minus 10%.
Kontraksi tersebut terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mencatat penjualan mobil selama Januari-Oktober 2025 secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) hanya sebanyak 634.844 unit. Angka itu turun 10,6% dibanding tahun lalu yang mencapai 711.064 unit.
"Saya tahu, saya tahu muka-muka yang diperkenalkan ini sedang galau. Ya memang harus galau, karena kalau kita lihat dari datanya, industri alat angkutnya plus, tapi untuk otomotifnya kontraksi minus 10%, besar sekali, dalam sekali," terang Agus.

