Ekspor Baja RI Capai 17,855 Juta Ton, Pasar Terbesar dari China hingga India
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat tren surplus pada neraca perdagangan industri baja nasional sejak 2023. Pada 2025 hingga September, ekspor baja beserta turunannya mencapai 17,855 juta ton dengan impor sebesar 11,942 juta ton.
Sehingga, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebutkan terjadi surplus perdagangan pada sektor baja sebesar 5,943 juta ton. Ia juga menjelaksan, pasar terbesar ekspor baja dari Indonesia hingga saat ini adalah China, Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.
Sementara itu, eksportir baja terbesar dari dalam negeri terdapat beberapa perusahaan, di antaranya adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Krakatau Posco, PT Dexin Steel Indonesia, PT Tata Metal Stari, dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS).
"Tercatat surplus sekitar 5,943 juta ton ke lima negara itu yang ekspor produk baja kita meliputi Tiongkok, Taiwan, India, Australia, dan Vietnam," ucap Wamenperin Faisol saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Sehingga, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebutkan terjadi surplus perdagangan pada sektor baja sebesar 5,943 juta ton. Ia juga menjelaksan, pasar terbesar ekspor baja dari Indonesia hingga saat ini adalah China, Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.
Sementara itu, eksportir baja terbesar dari dalam negeri terdapat beberapa perusahaan, di antaranya adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Krakatau Posco, PT Dexin Steel Indonesia, PT Tata Metal Stari, dan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS).
"Tercatat surplus sekitar 5,943 juta ton ke lima negara itu yang ekspor produk baja kita meliputi Tiongkok, Taiwan, India, Australia, dan Vietnam," ucap Wamenperin Faisol saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Adapun, eksportir baja dunia hingga saat ini masih dikuasai oleh beberapa negara, yaitu Cina, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Italia. Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar di Asia Tenggara selain Malaysia serta juga Vietnam.
"Pemerintah menetapkan kebijakan dalam rangka memperkuat daya saing dengan kualitas kemandirian industri baja nasional di tengah persaingan global beberapa kebijakan yang ditapkan fokus pada perlindungan industri baja dari unfair trade, penerapan SNI wajib, kepastian energi seperti pasokan gas, pemenuhan bahan baku," paparnya.
Selain itu, ia mengungkapkan industri baja nasional perlu memperkuat perlindungan dan standar khususnya untuk produk hilir guna mendorong investasi di hulu, mengembangkan baja ramah lingkungan, upaya hilirisasi baja nasional juga dapat ditingkatkan dengan memberikan dukungan agar produk-produk baja nasional dapat dikonsumsi di dalam negeri.
"Seperti industri perkapalan, otomotif, militer, konstruksi khususnya proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah, seperti pembangunan jalan tol, giant sea wall, program 3 juta rumah, dan sebagainya," terang Faisol Riza.

