Produksi Baja Indononesia Peringkat ke-14 Dunia, Utilitasi Baru 52,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan, industri logam dasar menunjukan tren pertumbuhan pada Triwulan III-2025 ini, degan pertumbuhan mencapai 18,62%. Sejauh ini industri logam dan baja dianggap berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari sisi produksi Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menjelaskan, baja Indonesia berdasarkan data hingga 2024 menempati peringkat ke-14 di dunia dengan volume produksi nasional sebesar 18 juta ton, atau naik 110% dari 2019. Sementara total produksi baja kasar dunia pada tahun 2024 sebesar 1,184 miliar ton.
Faisol mengungkapkan bahwa hingga kini China masih menjadi produsen baja utama dunia, dengan India berada di posisi kedua.
Dari sisi produksi Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menjelaskan, baja Indonesia berdasarkan data hingga 2024 menempati peringkat ke-14 di dunia dengan volume produksi nasional sebesar 18 juta ton, atau naik 110% dari 2019. Sementara total produksi baja kasar dunia pada tahun 2024 sebesar 1,184 miliar ton.
Faisol mengungkapkan bahwa hingga kini China masih menjadi produsen baja utama dunia, dengan India berada di posisi kedua.
"China merupakan produsen terbesar dengan produksi baja kasar sebesar 1,005 miliar ton atau 53,3% dari total produksi dunia, kemudian disusul India sebesar 149,4 juta ton atau sekitar 7,9% produk dunia," ucap Faisol saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Adapun, rata-rata utilisasi industri baja nasional hingga kini masih sebesar 52,70%, dengan sejumlah produk baja utama adalah slab, billet, hot roll coil (HRC) cold rolled coil, serta baja struktur. Semuanya diproduksi di dalam negeri dengan tingkat utilisasi masih di bawah 80%.
Dengan jumlah utilitas yang masih rendah tersebut, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini berharap pelaku industri dapat mengoptimalkan dan mengembangkan potensi produksi agar dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, serta bersaing di pasar global.
"Ruang pengembangan tersebut dapat diarahkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik yang juga terus meningkat tapi juga memperluas bangsa pasar ekspor," terang Faisol Riza.

