Agrinex 2025 Dibuka, Kemendag: Jadi Jendela Kekuatan Produk Pertanian Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Perhelatan pameran Agrinex 2025 resmi dibuka di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/11/2025). Kementerian Perdagangan (Kemendag) berharap perhelatan pameran agribisnis yang akan berlangsung pada 6-8 November 2025 ini dapat menjadi wadah dan jendela produk pertanian Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengungkapkan, penyelenggaraan Agrinex 2025 perlu didukung semua pihak guna memajukan sektor pertanian nasional.
"Harapan kami, Agrinex terus menjadi showcase dan jendela kekuatan produk pertanian Indonesia. Ke depan, kegiatan ini perlu kita dukung lebih besar lagi agar benar-benar dapat mempresentasikan potensi dan keunggulan sektor pertanian kita," ucapnya pada opening ceremony Agrinex 2025, Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Selain itu, Punto juga menjelaskan, kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 14,35%. Untuk itu, Punto berharap Agrinex 2025 bukan hanya ajang pameran produk pertanian, tetapi juga dapat menjadi wadah kolaborasi antara petani, industri, dan lembaga.
"Melalui kolaborasi ini, sektor pertanian Indonesia dapat semakin maju, berdaya saing tinggi, dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat," ungkap Punto.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Dare Indonesia sekaligus Ketua Penyelenggara Agrinex Expo 2025 Rifda Ammarina menyebutkan, kontribusi pertanian terhadap perekonomian nasional masih didominasi dari sektor perkebunan, yakni kelapa sawit.
Baca Juga
Anindya Bakrie: Agrinex 2025 Jadi Ajang Penguatan Pangan, AgriBusiness dan UMKM Nasional
Sementara itu, pelaku terbesar dari sektor pertanian adalah tanaman tanaman hortikultura, tanaman pangan, komoditas-komoditas yang non-sawit. Maka dari itu, ia berharap ekosistem agribisnis Indonesia dapat diperbaiki secara menyeluruh dan serentak.
"Jadi membangun ekosistem di sektor pertanian itu enggak bisa tahun ini hanya pembiayaan, enggak bisa, yang lain enggak akan, daya ungkitnya enggak kuat. Jadi harus kayak sawit, barengan waktu itu pembiayaan iya, lahan iya, bibit iya, pupuk iya," ungkap Rifda.

