Harga Emas Dunia Naik 1,2% di Tengah Kekhawatiran Pasar Saham
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia naik lebih 1% pada Rabu (6/11/2025), seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah kekhawatiran pasar saham yang melemah meskipun data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Harga emas spot menguat 1,2% menjadi US$ 3.977,94 per ons pada pukul 10.57 pagi waktu AS (ET), sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,7% menjadi US$ 3.989,80 per ons.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, pergerakan harga emas dan perak yang menguat terjadi meskipun laporan ketenagakerjaan sektor swasta dari Automatic Data Processing (ADP) melebihi ekspektasi pasar. “Ini menunjukkan adanya ketahanan di sektor logam mulia, bahkan saat aset berisiko sempat tertekan,” ujar dia dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun ke Rp 2,278 Juta, Saatnya Beli atau Tunggu?
Data ADP mencatat lapangan kerja sektor swasta di AS naik sebanyak 42.000 pada Oktober 2025, melampaui proyeksi Reuters sebesar 28.000. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid, yang berpotensi menahan langkah bank sentral AS (Federal Reserve) untuk memangkas suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat.
Biasanya, pasar tenaga kerja yang kuat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas karena peluang penurunan suku bunga menjadi lebih kecil. Namun, kali ini, investor justru beralih ke aset lindung nilai akibat kekhawatiran pasar saham yang mulai kehilangan momentumnya.
Indeks saham AS turun dari rekor tertingginya pada Rabu (6/11/2025), dipicu kekhawatiran bahwa valuasi saham teknologi, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), sudah terlalu tinggi.
“Permintaan aset safe haven muncul di pertengahan pekan karena pasar saham global masih goyah. Banyak pelaku pasar menilai saham AS dinilai terlalu tinggi dan ada potensi gelembung harga pada saham AI,” kata Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff dalam catatannya.
Sikap The Fed & Prospek Emas
Federal Reserve AS memangkas suku bunga acuannya pekan lalu. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal bahwa langkah tersebut kemungkinan menjadi pemangkasan terakhir tahun ini. Pasar berjangka kini memperkirakan peluang sekitar 70% terjadinya pemangkasan tambahan pada Desember 2025, turun dari lebih dari 90% pekan sebelumnya.
Baca Juga
Harga Emas Antam Naik ke Rp 2,286 Juta per Gram, Investor Tunggu Data AS
Emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) biasanya berkinerja baik dalam kondisi suku bunga rendah serta di masa ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, tren permintaan emas masih berpotensi menguat apabila sentimen risiko di pasar saham berlanjut.
Selain isu suku bunga dan tenaga kerja, pasar juga menantikan hasil sidang Mahkamah Agung AS yang akan menilai legalitas tarif impor era Presiden Donald Trump. Pengadilan yang lebih rendah sebelumnya memutuskan bahwa pemerintah AS melampaui kewenangan dalam mengenakan tarif tersebut berdasarkan undang-undang darurat.
Selain emas, harga perak spot naik 1,9% menjadi US$ 47,98 per ons, platinum naik 1% menjadi US$ 1.550,60, dan paladium naik 2,2% menjadi US$ 1.421,96.

