Komitmen Hilirisasi, Freeport Pastikan 100% Konsentrat Tembaga Kini Diolah di Dalam Negeri
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Freeport Indonesia (PTFI) menegaskan komitmennya terhadap program hilirisasi mineral nasional. Perusahaan menegaskan seluruh produksi konsentrat tembaga atau 100% dari tambang Papua kini sudah bisa diolah sepenuhnya di dalam negeri.
“Dengan beroperasinya smelter baru PT Freeport Indonesia di Gresik dan ekspansi PT Smelting, seluruh atau 3 juta ton konsentrat tembaga dari Papua kini bisa kami olah di Indonesia,” ujar Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati dalam Investortrust Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Baca Juga
Tony Wenas: Pelepasan 12% Saham Freeport ke Pemerintah masih dalam Pembahasan
Katri menyebut smelter di Gresik mulai beroperasi pada Juni 2024. Fasilitas senilai US$ 4,2 miliar atau sekitar Rp 68 triliun ini mampu memproses 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Sementara itu, ekspansi di PT Smelting menambah kapasitas 1,3 juta ton per tahun. Hasil produksi dari dua smelter tersebut mencapai 800.000 ton katoda tembaga setiap tahun.
Jumlah ini, kata Katri, setara dengan bahan baku untuk 8 juta kendaraan listrik atau membangun 2.000 menara sekelas Empire State Building. Selain menghasilkan katoda tembaga, fasilitas di Gresik juga memproduksi logam berharga, seperti emas, perak, paladium, dan platinum melalui unit precious metal refinery. “Kami melihat tembaga sebagai logam masa depan yang menjadi kunci transisi energi dan teknologi hijau,” kata Katri.
Baca Juga
Rencana Pemerintah Tambah 12% Saham di Freeport Jadi Langkah Strategis Wujudkan Kemandirian Energi
Katri menjelaskan, kontribusi ekonomi Freeport juga signifikan. Pada 2024, total penerimaan negara dari Freeport mencapai Rp 80 triliun. Dari jumlah itu, Rp 12 triliun di antaranya disalurkan ke pemerintah daerah. Dampak ekonomi Freeport terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 0,75%, sementara bagi Papua Tengah mencapai 77%, dan Kabupaten Mimika 91,16%.
Perusahaan juga berkomitmen terhadap praktik tambang berkelanjutan. Hingga 2024, emisi karbon perusahaan telah berkurang 31% dibanding 2018. “Sebagai pelaku utama industri tembaga nasional, kami percaya keberlanjutan ekonomi Indonesia ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya alam secara bijak dan memberi nilai tambah di dalam negeri,” tutup Katri.

