Bagikan

Bioetanol Bantu Petani, DPR: RI Siap Gaspol Kerja Sama dengan Brasil 

Poin Penting

Indonesia dan Brasil sepakat perkuat kolaborasi energi hijau dan bioetanol.
Dewi Yustisiana nilai kerja sama ini strategis bagi kemandirian energi nasional.
Alih teknologi etanol Brasil dapat tingkatkan ekonomi petani dan desa.

JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XII DPR Dewi Yustisiana menyambut baik penguatan kerja sama energi antara Indonesia dan Brasil yang disepakati dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Jakarta, Kamis (23/10/2025). 

Menurut anggota fraksi dari Partai Golkar tersebut, kolaborasi ini memiliki nilai strategis bagi ketahanan energi nasional sekaligus percepatan transisi energi menuju 2045.

Baca Juga

Pertamina Pastikan Pertalite Tidak Mengandung Etanol

“Kerja sama Indonesia–Brasil ini bukan hanya simbol diplomasi, tetapi langkah nyata memperkuat energi bersih dan nilai tambah sumber daya alam kita. Indonesia harus memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin,” ujar Dewi di Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Dewi menegaskan, ruang lingkup kerja sama yang mencakup sektor minyak dan gas bumi (migas), energi baru terbarukan (EBT), efisiensi energi, hingga pengembangan SDM harus segera ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret berbasis kebutuhan nasional. 

Ilustrai bioetanol ()
Source:

Dia menilai bioenergi menjadi sektor yang paling cepat memberikan hasil nyata. Sementara Brasil adalah produsen etanol terbesar kedua di dunia dan sukses menerapkan mandatori bioetanol, seperti E30 hingga E100 di berbagai wilayah.

Dewi menilai Indonesia dapat mengadopsi pengalaman tersebut untuk memperkuat program BBM campuran etanol E10 yang tengah dikembangkan pemerintah.
“Alih teknologi dari Brasil akan membantu kita menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan dengan dampak ekonomi langsung bagi petani dan masyarakat,” jelas Dewi.

Menurut Dewi, implementasi bioetanol juga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor energi hijau, mulai budi daya bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga distribusi. Selain itu, petani akan menjadi aktor utama dalam rantai pasok etanol karena pemanfaatan komoditas, seperti tebu, jagung, dan singkong yang dapat meningkatkan pendapatan daerah sentra pertanian. “Kalau ekosistemnya terbangun, program ini akan menggerakkan ekonomi pedesaan dan memperkuat ketahanan pangan-energi kita sekaligus,” tambahnya.

Baca Juga

Zulhas Ungkap RI Bakal Pakai Bensin Campur Etanol 10% 2026, Produksi Tebu-Singkong Digeber

Selain itu, sejumlah provinsi memiliki potensi besar basis produksi etanol nasional. Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, dan Sumatra Selatan menjadi sentra utama tebu, sementara Sulawesi Selatan, NTB, dan Sulawesi Tenggara mulai berkembang sebagai pusat produksi baru di kawasan timur.

Di sisi lain, Sumatra Utara, Riau, Kalimantan Barat, serta Papua memiliki peluang kuat untuk pengembangan jagung dan singkong sebagai bahan baku energi terbarukan di masa mendatang. “Kita ingin hasil konkret, yakni energi bersih terjangkau, nilai tambah di dalam negeri, peningkatan pendapatan petani, dan lapangan kerja baru. Jika dieksekusi dengan tepat, ini momentum lompatan besar menuju kemandirian energi nasional,” tegas Dewi.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024