Kadin Intip Peluang Kerja Sama dengan Pengusaha Afrika Selatan, dari Tambang hingga Sapi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, melakukan pertemuan bisnis dengan pengusaha-pengusaha asal Afrika Selatan. Pertemuan tersebut dilakukan sebagai upaya dari mengintip adanya peluang kerja sama antara kedua negara.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia, Pahala Mansury, menyebut forum tersebut menjadi kesempatan baik bagi pengusaha kedua negara untuk saling mengenal dan mengembangkan kerja sama perdagangan.
Pahala menyebut, secara year to date, nilai perdagangan antara Indonesia dan Afrika Selatan telah menyentuh angka US$1,42 miliar.
"Tetapi kita juga melihat bahwa meskipun US$1,4 miliar itu angka yang cukup baik, tetapi kesempatannya juga masih sangat besar sekali," katanya saat ditemui pada sela-sela agenda South Africa-Indonesia Business Forum 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Ia menjelaskan, sejumlah sektor potensial menjadi pembahasan dalam pertemuan pengusaha-pengusaha kedua negara tersebut, termasuk pertambangan. Pahala mengatakan, pertemuan bisnis ini menjajaki adanya pengembangan nilai rantai pasok pada sektor mineral kritis.
Peluang tersebut menjadi terbuka lantaran Indonesia memiliki kekayaan sumber daya, seperti komoditas nikel dan kobalt. Sedangkan Afrika Selatan, ia menyebut memiliki kekayaan mangan.
"Jadi tentunya pengembangan di sektor hilirisasi kritikal mineral atau mineral kritis ini merupakan satu kesempatan yang sangat baik bagi Indonesia dengan Afrika Selatan," ujarnya.
Selain sektor pertambangan, Pahala mengatakan pertemuan bisnis tersebut juga menjajaki kerja sama dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan bagi kedua negara. Indonesia, kata Pahala, memiliki kekayaan kelapa sawit yang kini sangat dibutuhkan oleh Afrika Selatan.
Di satu sisi, Indonesia membutuhkan kecukupan daging sebagai kebutuhan pangan masyarakat. Pahala mengatakan, saat ini Afrika Selatan memiliki sebanyak 13 juta ekor sapi. Disebutkan oleh Pahala, peluang ini coba diintip Kadin, lantaran Indonesia sendiri setidaknya mengimpor sekitar 1,2 juta sapi setiap tahunnya.
Baca Juga
Kadin Indonesia Ungkap RI Miliki Potensi Jadi Penggerak Ekonomi ASEAN
"Ini juga tentunya merupakan satu kesempatan bagaimana kita dengan Afrika Selatan bisa sama-sama membangun value chain atau rantai pasok di sektor pangan yang lebih kuat lagi, untuk bisa memastikan adanya ketahanan pangan antara kedua negara," jelasnya.
Ia menambahkan sektor lain yang dibahas untuk dilakukan peningkatan kerja sama antarkedua negara adalah manufaktur.
Lebih lanjut, mantan wakil menteri luar negeri (Wamenlu) itu mengungkap pertemuan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Afrika Selatan juga membahas mengenai pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Ia menyebut, Indonesia yang saat ini memiliki 19 KEK tentu ingin meningkatkan kinerja sektor manufaktur, termasuk dengan adanya medical tourism di Bali.
Sementara Afrika Selatan, lanjut Pahala, ingin mengembangkan sebanyak KEK sebagai sentra-sentra produksi.
"Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk meningkatkan rantai pasok yang lebih kuat antar kawasan ekonomi khusus. Khususnya yang memang memiliki produksi komoditas yang sama, atau yang saling melengkapi, ataupun juga untuk bisa menjadi mitra dagang antara kedua kawasan ekonomi khusus tersebut," ungkapnya.
Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, H.E. Mpetjane Kgagelo Lekgoro, menyambut positif adanya pertemuan bisnis antarpengusaha kedua negara tersebut. Ia juga mengatakan, pertemuan bisnis ini dilakukan untuk menyambut rencana kunjungan Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, ke Jakarta.
"Kami telah mendengarkan apa yang dapat ditawarkan oleh Afrika Selatan, apa yang dapat ditawarkan oleh Indonesia, serta bidang-bidang apa saja yang bisa menjadi ruang kerja sama," kata Mpetjane Kgagelo.
Duta Besar menyebutkan, sejumlah sektor menjadi perhatian khusus pemerintah Afrika Selatan dalam hal peningkatan peluang kerja sama dengan Indonesia. Sektor tersebut antara lain seperti pertanian, pariwisata, pertambangan, energi, minyak bumi, dan gas.
Namun demikian ia belum dapat memperinci besaran nilai peluang investasi yang dijajaki antarpengusaha kedua negara.
"Kami belum bisa memperkirakannya sekarang, tetapi ini merupakan awal dari berbagai tawaran yang akan datang, baik dari Afrika Selatan ke Indonesia maupun dari Indonesia ke Afrika Selatan. Seiring waktu, kami akan dapat menghitung nilainya," kata Mpetjane Kgagelo menjelaskan.

