Harga Batu Bara Menguat Seiring Pemulihan Permintaan Ekspor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga batu bara mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (26/9/2025). Penguatan ini ditopang oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana menunda pensiun sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu bara.
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga batu bara Newcastle untuk September 2025 turun US$ 0,1 menjadi US$ 103,75 per ton. Sedangkan harga batu bara Newcastle Oktober 2025 menguat US$ 1,35 menjadi US$ 106,4 per ton. Adapun November 2025 naik US$ 1,55 menjadi US$ 108,75 per ton.
Dikutip dari Reuters, penundaan pensiun pembangkit listrik batu bara oleh Pemerintahan Trump karena mereka membutuhkan jumlah listrik yang sangat besar untuk menopang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga
Dari Batu Bara ke Surya hingga Angin, PLN Tancap Gas ke Energi Hijau
Pemerintah AS telah melakukan pembicaraan dengan banyak perusahaan utilitas di seluruh negeri dan memperkirakan mayoritas dari beberapa lusin pembangkit listrik batu bara AS yang mendekati masa pensiun akan menunda penutupan.
"Saya akan katakan mayoritas kapasitas batu bara itu akan tetap online," kata Menteri Energi AS Chris Wright, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/9/2025).
Baca Juga
KAI Angkut Batu Bara 37,47 Juta Ton dalam 8 Bulan Pertama di 2025
Sementara itu, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menyebutkan, kenaikan harga batu bara global ini juga berjalan beriringan dengan pemulihan permintaan ekspor. Mereka mengungkap, hingga Agustus 2025 ekspor batu bara RI mencapai 328,92 juta ton.
“Angka ini memang masih 9,6% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Tapi, tren kenaikan di Juli dan Agustus memberikan sinyal positif bahwa pemulihan permintaan ekspor sedang berlangsung,” kata Plt Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani saat dihubungi Investortrust, Sabtu (27/9/2025).
Menurut Gita, pemulihan ekspor ini juga sejalan dengan dinamika global bahwa batu bara masih dibutuhkan dalam jangka menengah. Terlebih, menjelang musim dingin memang kerap terjadi peningkatan konsumsi batu bara.

