Kenapa 21 Jalan Tol Sepi dan Merugi? Ini Jawaban Bos Jasa Marga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR), Rivan A Purwantono merespons pernyataan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengenai 21 ruas jalan tol yang merugi akibat rata-rata volume lalu lintas (VLL) kendaraan masih di bawah 50%.
“Bisnis pengusahaan jalan tol ini adalah bisnis investasi. Ketika bisnis investasi, maka pengembaliannya lebih kepada masa konsesi, termasuk dari tarif (tol). Pendapatan dari tarif tersebut juga dipengaruhi oleh trafik,” kata Rivan saat ditemui di Travoy Hub, Jakarta Timur, Kamis (25/9/2025).
Rivan menjelaskan, kondisi trafik rendah pada awal operasi ruas tol merupakan hal umum. Bahkan, kata dia, ruas-ruas tol baru memasuki periode trafik yang cukup bagus sekitar 20 tahun beroperasi.
Baca Juga
Menteri PU Bidik Aturan Baru SPM Jalan Tol Rampung Desember 2025
“Itu kita sebut dengan masa-masa yang merupakan periode pembangunan, dan ruas selalu tidak seperti ruas yang sudah berjalan lebih dari 15 tahun. Bahkan dalam bahasa pengusahaan jalan tol adalah mature period-nya biasanya setelah 20 tahun. Seperti halnya (ruas tol) Yogyakarta-Solo, pada waktu awal beroperasi belum ramai, tetapi hari ini sudah signifikan,” jelas Rivan.
Menurut Rivan, pembangunan jalan tol harus dipandang sebagai upaya membangun konektivitas wilayah. Seiring waktu, konektivitas tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kegiatan logistik, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan VLL atau trafik kendaraan. “Jadi selalu berproses, tidak ada jalan tol yang dibuka langsung ramai,” tutur dia.
Menteri PU sebelumnya mengungkapkan, sebanyak 21 badan usaha jalan tol (BUJT) masih mengalami kerugian. Hal ini terjadi karena volume kendaraan yang melintas di sejumlah ruas tol jauh di bawah asumsi yang tertuang dalam perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT).
Dody menjelaskan, realisasi trafik di ruas tol yang dikelola 21 BUJT tersebut masih berada di bawah 50% dari proyeksi awal. Kondisi ini membuat pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional dan pemeliharaan (operation and maintenance/OM) hingga masa konsesi berakhir.
Baca Juga
Jalan Tol Beroperasi Akan Bertambah 308,70 Km pada 2026, Berikut Daftar Ruasnya
“Masih ada beberapa badan usaha jalan tol yang realisasi volume lalu lintas atau trafiknya jauh lebih rendah daripada yang kami asumsikan dalam perjanjian pengusahaan jalan tol,” kata Dody dalam rapat panja bersama Komisi V DPR di gedung parlemen, Jakarta, Rabu (24/9/2025) lalu.
Berikut daftar 21 ruas tol di Jawa, Sumatra, dan Bali yang tercatat masih merugi:
PT Jasamarga Manado Bitung: Tol Manado–Bitung
PT Waskita Bumi Wira: Tol Krian–Legundi–Bunder Manyar
PT Jasamarga Bali Tol: Tol Nusa Dua–Ngurah Rai–Benoa
PT Cibitung Tanjung Priok Port: Tol Cibitung–Cilincing
PT Hutama Karya (Persero): Tol Sigli–Banda Aceh
PT Hutama Karya (Persero): Tol Lubuk Linggau–Curup–Bengkulu
PT Hutama Karya (Persero): Tol Simpang Indralaya–Muara Enim
PT Hutama Karya (Persero): Tol Palembang–Indralaya
PT Hutama Marga Waskita: Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Pematang Siantar–Parapat
PT Jakarta Toll Road Development: 6 Ruas Tol Dalam Kota Jakarta
PT Wijaya Karya Serang Panimbang: Tol Serang–Panimbang
PT PP Semarang Demak: Tol Semarang–Demak
PT Jasamarga Jogja Solo: Tol Yogyakarta–Solo–NYIA Kulonprogo
PT Semesta Marga Raya: Tol Kanci–Pejagan
PT Pejagan Pemalang Toll Road: Tol Pejagan–Pemalang
PT Pemalang Batang Toll Road: Tol Pemalang–Batang
PT Marga Harjaya Infrastruktur: Tol Mojokerto–Kertosono
PT Jasamarga Gempol Pasuruan: Tol Gempol–Pasuruan
PT Citra Margatama Surabaya: Tol Waru–Bandara Juanda
PT Cinere Serpong Jaya: Tol Serpong–Cinere
PT Waskita Sriwijaya Tol: Tol Kayu Agung–Palembang

