BPI Danantara Fokus Kembangkan EBT dan Transformasikan Limbah Jadi Energi
Poin Penting
●
Danantara fokus investasi energi terbarukan & WTE.
●
Indonesia butuh US$180 miliar capai target EBT 42 GW.
●
WTE dinilai solusi energi sekaligus atasi masalah sampah.
JAKARTA, investortrust.id -Managing Director Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja menegaskan pihaknya akan memperkuat portofolio investasi di sektor energi terbarukan.
Langkah ini sejalan dengan target nasional dalam transisi energi serta kebutuhan mendesak untuk menekan dampak lingkungan dari sampah yang belum terkelola dengan baik.
Indonesia menargetkan pembangunan 42 gigawatt energi baru terbarukan (EBT) dalam beberapa tahun ke depan. Untuk merealisasikan target tersebut, dibutuhkan investasi hingga US$ 180 miliar, termasuk untuk infrastruktur penyimpanan energi.
Danantara menyatakan siap berperan sebagai salah satu investor sekaligus mitra strategis dalam mendorong tercapainya agenda besar tersebut.
Managing Director Investment Danantara Indonesia Stefanus Adi Hadiwidjaja menjawab pertanyaan moderator sesi panel Managing Editor Investortrust Hari Gunarto, dalam acara Investortrust Green Energy Summit 2025 dengan tema “Transisi Energi yang Adil: Menjaga Bumi, Menyejahterakan Rakyat”, di Jakarta, Selasa, (23/9/2025). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa
“Prinsip kami adalah crowding in investor. Danantara tidak bekerja sendirian, melainkan mengajak swasta, BUMN, investor global, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama merealisasikan transisi energi,” ujar Stefanus dalam acara Investortrust Green Energy Summit (IGES) 2025 di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Salah satu prioritas Danantara adalah pengembangan waste to energy (WTE). Proyek ini dinilai penting karena memberikan manfaat ganda: menghasilkan energi terbarukan sekaligus mengatasi persoalan sampah.
Menurut Stefanus, Indonesia tercatat memproduksi 35 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 60% tidak terkelola secara memadai. Kondisi tersebut telah memunculkan berbagai masalah serius, mulai dari pencemaran air tanah hingga risiko kesehatan masyarakat.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan yang menampung sampah hingga 1000 ton per hari. Foto: Ist/Muhtar Nasir
Di satu sisi, beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) juga mengalami kelebihan kapasitas. Ia memberikan contoh kasus seperti di TPA Bantar Gebang dan Leuwigajah yang sampai menimbulkan korban jiwa akibat longsoran sampah.
“Waste to energy bukan sekadar proyek energi. Ini juga solusi lingkungan. Teknologi terbaik dengan standar emisi global akan kami pilih agar manfaatnya optimal bagi masyarakat,” jelas Stefanus.
Danantara menegaskan bahwa perannya adalah sebagai investor keuangan yang prudent akan menggandeng mitra teknologi internasional yang kompeten. Bentuk investasi akan dilakukan bersama-sama dengan sektor swasta, investor global, dan pemerintah daerah, mengingat pasokan sampah berada di kewenangan pemda.
Dengan strategi ini, Danantara berharap dapat berkontribusi nyata pada pencapaian target net zero emission, memperkuat ketahanan energi nasional, hingga proses penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan kualitas lingkungan hidup.