REI Soroti Kredit Properti Turun Jadi 'Single Digit', Stimulus Pemerintah Jadi 'Booster'?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pelaku usaha properti alias pengembang (developer) menilai sejumlah stimulan yang diberikan pemerintah pada tahun ini dapat menjadi pendorong pertumbuhan kredit perumahan komersial hingga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), yang sejak awal 2025 cenderung melambat.
Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Joko Suranto menyampaikan, pertumbuhan kredit properti mulai mengalami penurunan sejak Maret 2025.
Berdasarkan catatan per Juni 2025, kata Joko, rata-rata pertumbuhan kredit sektor ini berada di kisaran satu digit. Kredit perumahan komersial tercatat tumbuh 9,46%, sementara kredit untuk MBR sebesar 8%.
“Kalau kita melihat data, maka realisasi pertumbuhan kredit properti mulai Maret sudah turun. Juni semua kredit itu sudah turun di single digit,” kata Joko dalam acara sosialisasi KUR perumahan bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Joko menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dapat menjadi peluang bagi pengembang. Di antaranya, kuota kredit pemilikan rumah (KPR) fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (KPR FLPP) sebesar 350.000 unit, insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP).
Selain itu, pembebasan retribusi persetujuan bangunan gedung (PBG) dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), kredit usaha rakyat (KUR) perumahan senilai Rp 130 triliun, paket stimulus ekonomi 8+4+5, serta relaksasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut Joko, berbagai kebijakan tersebut merupakan momentum penting bagi pengembang untuk memacu penyaluran kredit sektor properti. “Peluangnya saat ini adalah adanya kuota FLPP yang berlimpah, adanya KUR perumahan, dan banyak stimulus. Jangan sampai kalau (stimulan) itu tidak kita serap dengan baik, tahun depan bisa saja di-adjust dan itu kerugian besar,” ujarnya.

