Tanpa Upaya Serius Emisi Transportasi Bisa Melonjak 3x Lipat, Pemerintah Perlu Langkah Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengembangkan strategi mobilitas rendah emisi dan berkelanjutan untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju pada 2045 dan mencapai net zero emission (NZE) 2060. Tanpa upaya serius, emisi dari sektor transportasi bisa meningkat hampir tiga kali lipat pada 2060.
Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa menilai, tanpa kebijakan dan perencanaan terkoordinasi, Indonesia dipastikan akan menghadapi lonjakan emisi gas rumah kaca (GRK) serta peningkatan konsumsi dan impor bahan bakar minyak (BBM).
Dia menjelaskan, pada 2024 emisi sektor transportasi menyumbang 202 juta ton setara karbon dioksida atau sekitar 25% dari total emisi sektor energi nasional. Tanpa upaya serius, emisi transportasi bisa meningkat hampir tiga kali lipat pada 2060.
Baca Juga
“Dari hasil pemodelan kami, pada 2050 jarak tempuh per kapita diperkirakan melonjak hingga dua kali lipat. Tanpa strategi dekarbonisasi sektor transportasi, lonjakan ini akan memperburuk kemacetan, kenaikan impor BBM, dan polusi udara yang memperparah krisis kesehatan dan beban fiskal,” kata Fabby dalam keterangannya, Rabu (16/7/2025).
Menurutnya, jika persoalan ini tidak segera diatasi, akan sulit bagi Presiden Prabowo mewujudkan cita-cita pertumbuhan ekonomi 8% di akhir 2029, apalagi untuk mencapai Indonesia Emas 2045 karena biaya ekonomi semakin besar dari sistem transportasi saat ini.
“Oleh karena itu, dekarbonisasi sektor transportasi sangat mendesak untuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan,” ujar Fabby.
Laporan Indonesia Sustainable Mobility Outlook (ISMO) 2025 mengidentifikasi 80% emisi dari sektor transportasi berasal dari subsektor transportasi jalan. Kondisi ini dipicu tingginya mobilitas dengan mobil penumpang pribadi, angkutan barang, dan sepeda motor. Akibatnya, emisi transportasi jalan didominasi mobil (35%), diikuti angkutan barang (30%), sepeda motor (28%), dan bus (6%).
Sementara itu, analis Kebijakan Lingkungan IESR Ilham Surya menyatakan, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pengguna jalan di 2023, mayoritas pengendara motor memilih moda kendaraan tersebut karena dianggap lebih cepat dan andal. Sedangkan 42% pengguna mobil memilih moda tersebut karena mementingkan kenyamanan.
Studi lain menunjukkan bahwa ketika penghasilan seseorang meningkat di atas Rp 4 juta per bulan, penggunaan sepeda motor dan transportasi umum justru menurun, sedangkan penggunaan mobil pribadi meningkat.
“Di kota-kota besar, seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta, transportasi umum masih belum menjadi pilihan menarik. Para komuter atau mereka yang rutin bepergian ke tempat kerja memandang keterbatasan akses, waktu tempuh tidak menentu, dan keterlambatan menjadi faktor yang membuat mereka enggan menggunakan kendaraan umum,” terang Ilham.
Baca Juga
Gas Emisi Bisa Ditangkap! Elnusa Unjuk Gigi Usung CCUS Dukung Transisi Energi Nasional
Berdasarkan laporan ISMO 2025, diusulkan strategi mobilitas berkelanjutan terpadu berdasar pada tiga pendekatan utama, avoid - shift - improve (ASI), yaitu mengurangi kebutuhan mobilitas (avoid), mengalihkan ke moda transportasi rendah emisi (shift), dan meningkatkan teknologi dan efisiensi (improve).
Pendekatan terpadu dinilai mampu menekan emisi sektor transportasi hingga 76%, dari 561 juta ton setara karbon dioksida menjadi 117 juta ton setara karbon dioksida pada 2060. Sebagai catatan, 24% emisi tersisa berasal dari transportasi barang yang belum dilakukan intervensi khusus dalam kajian ini.
Strategi shift, dengan meningkatkan pangsa transportasi umum hingga 40%, berkontribusi paling besar dengan potensi pengurangan emisi sebesar 101 juta ton. Sementara itu, strategi improve melalui adopsi kendaraan listrik, hingga 66 juta mobil dan 143 juta motor listrik diproyeksikan menurunkan emisi hingga 210 juta ton pada tahun yang sama.

