Dampak Benang Asal China Tak Kena BMAD, Investasi Terancam Batal Masuk RI
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, sejumlah potensi dampak yang terjadi usai pemerintah memutuskan tidak menge akan bea masuk antidumping (BMAD) pada benang filamen asal China.
Redma menyebutkan, investasi senilai US$ 250 juta akan terancam batal masuk ke Indonesia lantaran adanya keputusan tersebut. Bahkan, ia mengungkapkan, hal itu berpotensi akan membuat perusahaan polimer berhenti untuk produksi.
"Investasi sebesar US$ 250 juta belum akan terealisasi dan akan ada perusahaan polimer yang akan kembali stop produksi," ucap Redma kepada investortrust.id, Jumat (20/6/2025).
Menurut Redma, dengan bebasnya komoditas benang asal China masuk ke Tanah Air tanpa adanya pengenaan bea masuk, akan memengaruhi kepercayaan dari investor karena dianggap tidak dapat melindungi pasar domestik.
"Kepercayaan investor akan turun karena kita dianggap tidak mampu menciptakan iklim usaha sehat, karena tidak menindak praktek unfair (predatory pricing)," beber Redma.
Lebih lanjut, Redma pun mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah. Ia menilai, keputusan tersebut justru akan semakin menekan industri polimer dalam negeri, lantaran tidak dapat menindak tegas praktik persaingan usaha yang adil di pasar.
"Jangan kan perlindungan yg bersifat proteksi, menindak praktik unfair saja tidak mau, dan malah melanggengkan praktek predatory pricing yang sudah jelas telah memakan korban," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional secara menyeluruh, serta masukan dari para pemangku kepentingan terkait.
"Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi industri TPT nasional, khususnya pasokan benang filamen sintetis tertentu ke pasar domestik yang masih terbatas,” ucap Mendag Budi dalam keterangan resminya, Jumat (20/6/2025).

