Prabowo ke Rusia Bukan Bahas Nuklir, PLTN Indonesia Masih Tunggu Sinyal Perpres
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebut, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia bukan untuk membahas pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno, yang juga merangkap sebagai Plt Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas). Jadi kunjungan tersebut tidak diagendakan untuk membahas nuklir.
Baca Juga
“Kalau tidak salah karena yang mendampingi hanya Dirjen Minerba-Migas. Jadi cuman itu saja. Enggak ada topik itu (nuklir),” kata Eniya saat ditemui di Jakarta, Kamis (19/6/2025).
Pemerintah tengah mengembangkan PLTN untuk mewujudkan ketahanan energi sekaligus menuju net zero emission (NZE) 2060. Adapun sebagai langkah awal, Eniya menyebutkan bahwa harus dibentuk Organisasi Pelaksana Program Energi Nuklir atau Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO).
Kendati demikian, dia menerangkan bahwa terdapat perubahan terkait pembentukan NEPIO setelah dirinya berdiskusi dengan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg). Sebab Kemensetneg meminta agar pembentukan pelaksana program energi nuklir berbentuk peraturan presiden (perpres), bukan keputusan presiden (kepres) sebagaimana yang telah dirancang selama ini.
“Dari situ konsep pengaturannya perpres. Jadi nanti misalnya lokasinya ditentukan, terus operasionalnya seperti apa. Itu pengaturan simpelnya dahulu. Di dalamnya baru ada pokja-pokja (kelompok kerja),” jelas Eniya.
Baca Juga
Israel Hantam Fasilitas Nuklir Iran, Teheran Balas dengan Serangan Drone
Lebih lanjut Eniya menerangkan, pokja-pokja tersebut yang nantinya menentukan lokasi, menentukan proses melalui proses lelang atau lewat pemerintah, struktur finansial, hingga model bisnis proyek PLTN ini.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pembangunan PLTN dengan direncanakan berkapasitas sebesar 0,5 gigawatt (GW). Dari porsi tersebut, 250 megawatt (MW) akan dibangun di Kalimantan dan 250 MW dibangun di Sumatera.

