Transjakarta Bidik Pendapatan Non-subsidi Naik 75%, Kontribusi Terbesar dari Ini
JAKARTA, investortrust.id - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) membidik pendapatan non-subsidi 2025 sebesar Rp 380 miliar atau naik 74,31% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 218 miliar.
''Jadi, tahun lalu dapatnya Rp 218 miliar. Tahun ini kita targetkan (pendapatan non-subsidi) naik jadi Rp 380 miliar,'' ungkap Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza saat media gathering di Jakarta, Selasa (18/3/2025) malam.
Baca Juga
Bank DKI Permudah Pengguna MRT dan Transjakarta Gunakan QRIS Tap NFC BI
Dia memaparkan, kontribusi pendapatan non-subsidi terbesar adalah dari periklanan dengan para mitra, baik di halte maupun armada bus Transjakarta. ''Dari situ (pendapatan non-subsidi) ada yang dapat dari naming rights, iklan, aktivasi (pendirian booth di halte), dan retail. Mana yang paling besar (kontribusinya)? Iklan, paling besar masih iklan,'' ungkap Welfizon.
Sebagai informasi, Transjakarta berhasil membukukan pendapatan non-farebox alias non-subsidi sekitar Rp 218,4 miliar pada 2024 atau naik 3,5 kalinya dari 2022.
Baca Juga
D'Masiv -Transjakarta Resmikan Hak Penamaan di Halte Petukangan Utara
Hingga 3 Maret 2025, Transjakarta telah bekerja sama dengan berbagai mitra untuk hak penamaan (naming rights) di enam halte, yaitu Bundaran HI Astra, Senayan Bank DKI, Widya Chandra Telkomsel, Swadarma ParagonCorp, Cawang Sentral 1 Polypaint, serta Petukangan D’Masiv.
Adapun sepanjang 2024, Transjakarta berhasil mencatat total pelanggan sebanyak 371,4 juta orang dengan 1,3 juta pelanggan per harinya.

