Pengamat Sebut iPhone 16 Masih Diminati di Indonesia, tetapi...
JAKARTA, investortrust.id - iPhone 16 sudah bisa dijual di Indonesia setelah mendapatkan sertifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan sertifikasi pos dan telekomunikasi (postel) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Namun, di tengah fluktuasi daya beli masyarakat, muncul pertanyaan apakah ponsel ini masih memiliki daya tarik yang kuat di pasar Tanah Air?
Analis pasar smartphone dan Senior Consultant di SEQARA Communications, Aryo Medianto, menilai iPhone 16 tetap berpotensi menarik perhatian, meski daya beli masyarakat sedang menurun.
"Apple memiliki basis pengguna setia dan citra merek yang sangat kuat, sehingga produk terbaru seperti iPhone 16 tetap akan diminati, terutama oleh kalangan menengah atas dan penggemar teknologi," ujar Aryo kepada investortrust.id, Minggu (16/3/2025).
Baca Juga
Pengguna Iphone Harap Bersabar, QRIS Tap Baru Bisa di Android
Namun, Aryo menekankan Apple masih menghadapi tantangan, terutama dalam strategi harga. Penetrasi pasar bisa terhambat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih jika banderolnya terlalu tinggi tanpa skema pemasaran yang tepat. Strategi promosi, diskon, atau skema cicilan dinilai bisa menjadi faktor penentu keberhasilan penjualan iPhone 16 di Indonesia.
Di sisi lain, pengamat gawai itu juga menyoroti kebijakan Apple yang lebih memilih berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) dibandingkan manufaktur. Menurutnya, strategi ini cukup efektif dalam inovasi produk, namun berpotensi menciptakan kesenjangan dengan produsen lain yang mengadopsi skema manufaktur lokal.
"Skema manufaktur lebih menguntungkan bagi industri dalam negeri karena membantu membangun ekosistem produksi yang lebih kuat. Dengan berdirinya pabrik penyuplai aksesoris dan kemasan, kontribusi terhadap TKDN bisa meningkat 1-5% sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal," jelasnya.
Aryo berharap Apple dapat mempertimbangkan investasi di sektor manufaktur untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik dan memberikan manfaat lebih besar bagi industri dalam negeri.
Meskipun daya beli masyarakat menurun, Aryo tetap optimistis iPhone masih bisa menguasai segmen flagship.
"Segmen premium biasanya tidak terlalu terpengaruh karena target pasarnya adalah konsumen dengan daya beli yang lebih stabil," katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan strategi Apple dalam menawarkan varian sebelumnya dengan harga lebih terjangkau serta ekosistem produk yang kuat menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi oleh pesaingnya.
Baca Juga
iPhone 16 Resmi Kantongi Postel Komdigi, Siap Dijual di Indonesia
Berdasarkan data StatCounter per Februari 2025, pangsa pasar Apple di Indonesia mencapai 8,72%, berada di bawah Oppo (18,24%), Samsung (17,66%), Xiaomi (15,06%), dan Vivo (13,8%). Meskipun demikian, Apple tetap menunjukkan pertumbuhan pengguna yang stabil di Indonesia.
Dengan tantangan dan peluang yang ada, keberhasilan iPhone 16 di Indonesia akan sangat bergantung pada strategi harga dan pemasaran yang diterapkan oleh Apple di pasar Tanah Air. (C-13)

