Ekonom: DeepSeek Diprediksi Jadi Tren Pengembangan AI Murah
JAKARTA, investortrust.id - Kehadiran DeepSeek dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan, chatbot asal China itu digadang-gadang akan menjadi cikal-bakal tren pengembangan AI yang lebih murah.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyebut DeepSeek mampu menjadi tonggak persaingan indurstri AI yang selama ini didominasi oleh perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS). Dia menyebut bahwa DeepSeek tidak hanya bersaing pada harga yang lebih murah, tapi juga kualitas yang tidak kalah bagus.
"Persaingan bukan hanya dari sisi kualitas, tapi bisa dari sisi harga atau efisiensi pengembangan model. Dengan contoh dari DeepSeek, pengembangan AI ke depan tidak akan dikooptasi oleh perusahaan dari US, tapi bisa berasal dari negara berkembang," jelas Huda dalam kepada investortrust.id, Selasa (4/2/2025).
Baca Juga
Sebelumnya kehadiran DeepSeek juga mempengaruhi pasar saham dari perusahaan teknologi AS. NVIDIA yang menyediakan pasokan chipset untuk pengembangan AI pun sampai anjlok hingga 17% pada pekan lalu.
Huda mengatakan hal ini memang sejalan dengan dampak dari biaya pengembangan yang murah, yang membuat permintaan barang teknologi, terutama chip dan produk turunannya, menjadi berkurang dan menyebabkan harga saham teknologi US ambrol.
Ekonom itu juga mempredikisi jika DeepSeek dapat menjadi awal dari pengembangan yang murah tapi tetap bisa bersaing. "Pengembangan AI dengan budget murah bisa menjadi trend ke depan yang menyebabkan permintaan produk chipset dan sebagainya menjadi menurun," jelasnya.
Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid juga menyambut baik kehadiran DeepSeek. Dia menekankan bahwa kesuksesan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) tidak selalu bergantung pada modal yang besar.
"Untuk memberikan kita perspektif yang lebih luas, DeepSeek bermula dari proyek sampingan pendirinya. Jika kita bandingkan dengan perusahaan raksasa Indonesia seperti misalnya Bukalapak, biaya pengembangan modal AI [DeepSeek] ini sepertinya tidak terlalu tinggi atau bahkan rendah," kata Meutya di Jakarta (30/1/2025).
Sekadar informasi, kendati cukup populer, DeepSeek kini dilarang sejumlah negara dan badan pemerintah, yang mengaku khawatir atas praktik etika, privasi, dan keamanan aplikasi tersebut. Kekhawatiran terbesar yang dilaporkan adalah potensi kebocoran data ke pemerintah China. (C-13)

