Anindya Bakrie Optimistis Kerja Sama Kesehatan RI dan India Segera Terealisasi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie optimistis kerja sama Indonesia dengan India terutama di bidang kesehatan akan segera terealisasi. Hal ini mengingat masih banyak kebutuhan rumah sakit dengan kualitas prima. Apalagi, saat ini, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sudah berjalan.
"Saya rasa yang paling bisa cepat direalisasi itu adalah rumah sakit. Karena kebutuhan rumah sakit yang lebih baik itu ada dan banyak, dan BPJS juga sudah terbentuk. Jadi ini merupakan sesuatu yang bisa direalisasikan dengan cepat," kata Anindya Bakrie dalam wawancara dengan investortrust.id, Sabtu (26/1/2025).
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie Serahkan Hasil CEO Forum India-RI kepada Prabowo
Diketahui, CEO Forum yang dihadiri 50 pengusaha dari India dan Indonesia di New Delhi, India, Sabtu (25/1/2025) menghasilkan sejumlah kesepakatan yang tertuang dalam pernyataan bersama. Terdapat lima sektor bisnis yang menjadi prioritas kedua belah pihak, yaitu layanan kesehatan, pangan dan pertanian, manufaktur, energi, serta teknologi.
Untuk sektor layanan kesehatan, CEO Forum India-Indonesia telah mengidentifikasi layanan kesehatan dan wisata bernilai medis beserta investasi di rumah sakit (RS) dianggap sebagai sektor dengan peluang besar mengingat kekuatan India dalam perawatan medis. RS India telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan RS Indonesia. Perusahaan India dapat mendirikan lebih banyak RS di Indonesia atau mendukung wisata bernilai medis dengan beberapa masalah yang ditangani.
Selain sektor layanan kesehatan, Anindya Bakrie juga optimistis kerja sama di sektor pasar modal dapat segera terealisasi. Dikatakan, total aset atau dana yang ada di pasar modal kedua negara dapat menembus angka US$ 1 triliun. Kerja sama ini, kata Anin, sapaan Anindya Bakrie, bukan serta merta investor India masuk ke Indonesia atau sebaliknya.
"Tetapi dengan edukasi yang baik, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang sudah ada di India itu sangat mengerti perkembangan berikutnya yang setipe di Indonesia. Jadi dua tipe, satu perusahaan rumah sakit, dan kedua kerja sama pasar modal," paparnya.
Selain kedua sektor itu, Anindya Bakrie mengatakan, Indonesia dan India juga bekerja sama dalam pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kerja sama dalam pemanfaatan AI ini tidak hanya berhubungan dengan perdagangan, tetapi juga di sektor kesehatan dan pendidikan.
"Jadi ini semua merupakan infrastruktur lunak yang perlu kita kembangkan," paparnya.
Baca Juga
India-Indonesia CEOs Forum Pushes for Mutual Regulatory Reforms to Unlock Trade Potential
Digitalisasi menjadi faktor penting yang menggenjot pertumbuhan ekonomi India hingga mencapai 6,5%. Menurut Anin, digitalisasi membuat produktivitas meningkat.
"Dengan digitalisasi, produktivitas meningkat. Baik di bidang tentunya jasa maupun juga barang, tetapi juga membuat kesejahteraan itu lebih baik, dengan adanya pendidikan dan juga kesehatan yang lebih baik. Jadi teknologi itu merupakan enabler daripada pertumbuhan tadi," katanya.
Anin mengatakan, CEO Forum yang dihadiri puluhan pengusaha Indonesia dan India berlangsung produktif, konkret, dan jujur. Hal ini mengingat kedua negara yang memiliki sejarah panjang sama-sama berkeinginan untuk meningkatkan investasi dan perdagangan.
"Indonesia banyak sekali yang bisa dikerjakan bersama-sama dengan India, di bidang-bidang seperti agrikultur, kesehatan, manufaktur, teknologi, dan juga transisi energi. Nah, lima hal ini ditambah lagi satu mengenai affordable housing atau rumah murah," katanya.
Hal itu, kata Anin, disambut pihak India. Kedua pihak bahkan berencana membentuk semacam project management office untuk memastikan tindak lanjut hasil CEO Forum.
"Karena ujungnya, kalau kita bicara investasi harus direalisasikan. Kita bicara membuka akses pasar, ya benar-benar mesti jelas bagaimana bisa terjadi barang apa, jasa apa, dan lain-lain," katanya.
Dokumen hasil CEO Forum, katanya, telah diserahkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi.
"Ini merupakan sebuah kehormatan buat kami dan salah satu yang kita harus lakukan, membantu pemerintah supaya benar-benar terealisasi," jelasnya.

