WEF Prediksi Profesi Ini Bakal Terancam Digantikan AI di 2030
JAKARTA, Investortrust.id - Kemajuan teknologi, terutama di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membawa dampak besar pada dunia kerja. Menurut laporan Future of Jobs dari World Economic Forum (WEF), beberapa pekerjaan seperti kasir, pegawai pos, dan teller bank diprediksi menurut drastis pada tahun 2030. Di sisi lain, sektor pekerjaan di bidang pengantaran, konstruksi, dan perawatan diperkirakan akan tumbuh pesat.
Dikutip, Jumat (10/1/2025), WEF melaporkan bahwa pekerja administrasi seperti asisten, sekretaris, dan customer service akan menjadi kelompok yang paling terdampak. Selain itu, pekerjaan seperti pegawai pos, teller bank, dan petugas entri data juga termasuk dalam daftar pekerjaan yang diprediksi akan menurun paling cepat.
Laporan ini didasarkan pada data dari lebih dari 1.000 perusahaan global yang mewakili 14 juta pekerja di 20 industri di 55 negara. Penurunan ini didorong oleh beberapa faktor, seperti kemajuan teknologi, pergeseran demografi, ketegangan geo-ekonomi, ketidakpastian ekonomi, dan transisi menuju ekonomi hijau.
Meski beberapa pekerjaan yang akan hilang, ada sektor-sektor lain yang justru berkembang. Pekerjaan seperti petani, kurir, pekerja konstruksi, tenaga penjualan, dan pekerja pemrosesan makanan diperkirakan akan meningkat dalam hal volume.
Baca Juga
BRI Andalkan Kecerdasan Buatan untuk Humanisasi Layanan Digital
Selain itu, pekerjaan di sektor perawatan, seperti perawat, pekerja sosial, konselor, dan asisten perawatan pribadi, juga akan tumbuh signifikan dalam lima tahun ke depan. Pekerjaan di bidang pendidikan, termasuk guru, juga diproyeksikan akan meningkat.
Laporan WEF menyoroti bahwa selain keterampilan teknologi seperti AI, big data, dan keamanan siber, keterampilan manusia seperti berpikir kritis, fleksibilitas, dan ketahanan tetap sangat dihargai. Pemikiran analitis menjadi keterampilan utama yang dicari oleh 7 dari 10 perusahaan.
Namun, WEF juga mengingatkan bahwa 39% keterampilan yang ada saat ini diperkirakan akan usang atau membutuhkan pembaruan dalam lima tahun ke depan. Meski demikian, angka ini menurun dari 44% pada tahun 2023 karena peningkatan pelatihan ulang dan pengembangan keterampilan baru oleh para pekerja.
Laporan sekaligus menegaskan akan pentingnya adaptasi dalam dunia kerja yang terus berubah. Di tengah meningkatnya AI, para pekerja dituntut untuk terus mengasah keterampilan mereka agar tetap relevan di era teknologi yang semakin maju.
Baca Juga
Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga serius menangani tata kelola pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memanfaatkan potensi besar AI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital sekaligus memitigasi risiko yang mungkin muncul.
Menurut Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, pengaturan ini diperlukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi AI.
“Awal Januari ini kami akan mulai diskusi intensif. Targetnya adalah menghasilkan draft regulasi yang dapat menjadi dasar tata kelola AI yang holistik,” kata Nezar dalam keterangannya, Selasa (7/1/2025). (C-13)

