Bulog Sebut RI Harus Optimalkan Infrastruktur dalam Pengelolaan Beras
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Bisnis Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Febby Novita mengungkapkan pentingnya introspeksi sebagai upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam pengelolaan beras di Indonesia. Karena infrastruktur pertanian di Indonesia memiliki perbedaan yang signifikan dengan negara-negara lain yang kini menjadi salah satu pemasok utama beras impor ke dalam negeri.
”Kita harus jujur mengakui, saya sudah 28 tahun di Bulog. Dulu Vietnam belajar dari Indonesia, Jepang, bahkan Malaysia, tapi mengapa kita sekarang impor dari mereka,” ujarnya, dalam acara Investortrust Focus Group Discussion dengan tema ‘Memperkuat Basis Pangan Lokal, Memacu Pertumbuhan Ekonomi 8%’, di Mezzanine Ballroom, Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (19/12/2024).
Febby mencontohkan, salah satu keunggulan beras yang berasal dari Vietnam adalah kualitasnya yang lebih tahan lama meski disimpan dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini, menurutnya, dipengaruhi oleh efisiensi infrastruktur yang dimiliki oleh negara tersebut.
“Kita memang harus intropeksi bahwa berasnya mereka kalau lebih lama disimpan itu masih bagus dibanding beras dalam negeri,” katanya.
“Ini yang mestinya bagaimana kita mengoptimalkan infrastruktur kita agar tidak kalah dengan mereka,” sambung Febby.
Masih terkait infrastruktur, lanjut dia, dari sisi logistik di Indonesia juga menjadi tantangan dalam pengelolaan beras nasional. “Di Subang atau Karawang, misalnya kalau ambil gabah kering panen di sawah itu narik ke pinggir sawah saja biayannya misal Rp 100-200, lalu dari pinggir sawah ke pabrik penggulingan sudah berapa (biayanya),” ucap Febby.
Kondisi tersebut, dikatakan dia, berbeda dengan di Vietnam misalnya, yang sudah langsung diproses dari sawah hingga proses penggilingan. “Dan itu biayanya menjadi lebih murah dibanding kita,” katanya.

