LRT Jabodebek dan BBNI Umumkan Kerja Sama Hak Penamaan Stasiun Dukuh Atas
JAKARTA, investortrust.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melalui subholding Light Rail Transit (LRT) Jabodebek dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) resmi menjalin kerja sama dalam hak penamaan (naming rights) stasiun Dukuh Atas menjadi “LRT Dukuh Atas BNI.”
Direktur Niaga KAI, Hadis Surya Palapa mengatakan kontrak ini sebagai sinergi antarBadan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai dukungan untuk mendorong sistem transportasi yang terintegrasi, khususnya di wilayah Jakarta.
“Stasiun LRT Dukuh Atas BNI ini merupakan stasiun yang terintegrasi, terkoneksi dengan moda transportasi lain. Integrasinya paling lengkap di sini dari seluruh Indonesia, karena terkoneksi dengan KRL (kereta rel listrik), kemudian juga ada kereta api bandara, kemudian dengan MRT (mass rapid transit) sendiri, dan satu lagi dengan bus Transjakarta. Jadi interkoneksi dalam perkotaan, semua lengkap di sini,” kata Hadis saat ditemui di Stasiun LRT Dukuh Atas BNI, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2024).
Terkait nilai kontrak hak penamaan stasiun LRT Dukuh Atas BNI, Hadis enggan memperinci jumlahnya namun untuk panjang kontrak bersama bank BUMN itu hingga 2027.
“Kalau kontrak kita (bersama BNI) tiga tahun, memang kita setting sefleksibel mungkin. Jangan terlalu lama juga, jangan terlalu pendek juga,” tambah dia.
Baca Juga
Waskita Karya (WSKT) Kebut Proyek LRT Jakarta Fase 1B, Sabet 2 Penghargaan MURI
Terpisah, Direktur Institutional Banking BBNI Munadi Herlambang menyatakan, pihaknya memiliki stasiun LRT Dukuh Atas karena memiliki rekor pengguna hingga 2,2 juta per bulannya dan diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan transit-oriented development (TOD).
“LRT Jabodebek (Dukuh Atas) ini bisa berhasil mencapai rekor pengguna tertinggi yaitu 2,2 juta pengguna per bulan atau meningkat 13% dari bulan sebelumnya. Dan pastinya multiplier effect dari moda transportasi modern ini berdampak langsung pada kegiatan ekonomi masyarakat, baik pada industri turunan maupun terciptanya lapangan usaha baru,” ucap dia.
Tak sampai di situ, dia juga mengungkapkan, kawasan TOD seperti ini dapat meningkatkan foreign direct investment (FDI) hingga 30% di Tanah Air.
“Ketika studi empiris di negara China dilihat bahwa transportasi semacam ini dapat meningkatkan nilai foreign direct investment 20-30% kepada negara Indonesia. Kita berharap ini dapat menopang pertumbuhan ekonomi ke depannya mulai tahun ini sampai ke tahun-tahun berikutnya,” ungkap Munadi.

