Bakal Salip Chandra Asri (TPIA), Polytama Tambah Kapasitas Produksi Polypropylene Jadi 600 Ribu Ton Tahun di 2027
INDRAMAYU, investortrust.id - PT Polytama Propindo menargetkan peningkatan kapasitas produksi polypropylene (PP) menjadi 600 ribu metrik ton per tahun pada 2027. Polypropylene merupakan salah satu bahan baku utama produk plastik.
Direktur Commercial & Support Polytama Dwinanto Kurniawan menyebutkan, saat ini, kapasitas pabrik produksi perseroan baru mencapai 300 ribu MT per tahun. Oleh karena itu, akan dilakukan Pembangunan pabrik kedua dengan dengan target kapasitas produksi 300 MT, sehingga total kapasitas perseroan akan meningkat dua kali lipat menjadi 600 ribu ton pada 2027. Jika pabrik tersebut rampung, Polytama akan menjadi produsen PP terbesar di Indonesia.
Baca Juga
Pertamina Gandeng SGI dan Bell Textron Inc untuk Penyaluran SAF di Helikopter
“Kompetitor kami adalah Chandra Asri itu kapasitas produksinya sekitar 500.000 MT, Polytama baru mencapai 300.000 MT. Sedangkan Pertamina Plaju hanya sekitar 40.000 MT. Itu artinya tahun 2027, Polytama akan menjadi produsen polypropylene terbesar di Indonesia, apabila penambahan kapasitas telah dituntaskan,” ujar Dwinanto di kantor Polytama Propindo, Selasa (24/9/2024).
Disampaikan Dwinanto, Polytama yang didirikan pada 1993 awalnya hanya memiliki kapasitas produksi 100.000 MT per tahun. Kemudian pada 2018 ditingkatkan menjadi 240.000 MT, dan memasuki tahun 2019, kapasitas produksi kembali ditingkatkan menjadi 300.000 MT per tahun.
“Tahun 2019 merupakan milestone Polytama menjadi bagian dari Pertamina Group. Karena tahun 2019 bulan Oktober tepatnya, Pertamina memasukkan sahamnya melalui holding di Tuban Petro Chemical Industries dan Polytama menjadi cucu Pertamina,” ungkap dia.
Baca Juga
Lebih lanjut, Dwinanto menerangkan, peningkatan kapasitas produksi tersebut sejalan dengan besarnya kebutuhan PP di Indonesia. Tahun 2023, total kebutuhan mencapai 2 juta MT. Angka tersebut jauh di atas produksi dalam negeri yang bersumber dari Chandra Asri, Polytama, dan Pertamina Plaju hanya 800.000 MT. Sedangkan sebanyak 1,2 juta MT didatangkan dari impor.
Dia tidak memungkiri bahwa pemain di industri ini masih sangat sedikit, yaitu ketiga perusahaan tersebut. Pasalnya, untuk bisa membangun pabrik petrochemical membutuhkan investasi yang sangat besar. Maka dari itu, untuk sekarang Indonesia masih butuh impor PP.
Baca Juga
Stimulus Tiongkok Jadi Sentimen Positif Penguatan Pasar Eropa
“Inilah makanya kenapa Polytama, karena sebagai bagian dari grup Pertamina didorong untuk bisa menambah kapasitas membuat pabrik baru. Ini yang sekarang sedang kita lakukan. Kita sudah punya lahan dan siap untuk dibangun. Rencana kita commissioning tahun 2027,” sebut Dwinanto.
Investasi US$ 500 Juta
Terkait dengan pembangunan pabrik kedua Polytama ini, Dwinanto membeberkan bahwa mereka sudah mendapat suntikan dana sebesar US$ 160 juta dari Pertamina. Namun begitu, total keseluruhan yang dibutuhkan adalah US$ 500 juta.
“Jadi, kita akan mencari sisa pendanaan dari luar, selain dari Pertamina. Nah itu investasi yang kita lakukan untuk membangun pabrik kedua. Alhamdulillah semuanya in process, semuanya juga on track, kita juga akan di-support dari pendanaannya juga,” ungkap Dwinanto.

