BRIN Bocorkan Tantangan Pengembangan PLTS di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Konservasi dan Konservasi Energi BRIN, Arya Rezavidi menyampaikan, Pemerintah Indonesia kerap kali membuat target di dalam kebijakan, namun pada pelaksanaannya tidak disertai dengan evaluasi.
“Ini perlu dilakukan untuk target yang baru ini untuk kita mengejar net zero emission (NZE). 421 GW targetnya sampai 2060 sudah cukup membangun industri, kalau itu memang benar konsisten dilakukan,” kata Arya saat ditemui dalam acara Media Briefing Indonesia Solar Summit 2024, Selasa (13/8/2024).
Lebih lanjut Arya menyebutkan, faktor lainnya adalah Energi Baru Terbarukan (EBT) ini memang tidak menarik jika dibandingkan dengan pembangkit fosil yang tidak memberikan external cost.
Baca Juga
Bukan hanya itu, PLTS juga masih memiliki persoalan intermitensi lantaran sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Sebab, PLTS tidak bisa memproduksi saat matahari tertutup awan, hujan, dan di malam hari.
“Tantangan lainnya juga masalah insentif. Negara-negara lain itu memberikan berbagai macam insentif ketika program-program photovoltaic belum berkembang kita hanya melihat negara lain sudah sukses, tapi gak melihat saat memulai,” beber Arya.
Menurut Arya, semua dimulai dengan adanya perlindungan dan perkembangan percepatan. Ketika masih belum berkembang, maka harus bersiang dengan pembangkit lain yang relatif banyak dikembangkan.
Baca Juga
Anak Usaha United Tractors (UNTR) Garap PLTS Atap ADM Berkapasitas 8,1 MWp
Adapun tantangan selanjutnya adalah berkaitan dengan aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Menurutnya, walaupun Kementerian ESDM sudah menerbitkan aturan baru tentang TKDN ini, tapi masih belum mencerminkan rantai pasok industri Indonesia.

