Komponen Harga Pangan Bergejolak Sumbang Deflasi Juni 2024, Ini Respons Bos Bapanas
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi merespons inflasi Juni 2024 di level 2,51% secara tahunan (yoy) dan deflasi 0,08% secara bulanan (mtm) yang lebih dalam dibandingkan Mei 2024 sebagaimana diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Menanggapi kondisi tersebut, Arief Prasetyo mengungkapkan, pihaknya bersama segenap pemnangku kepentingan (stakeholders) pangan lainnya akan terus menjalankan berbagai instrumen pengendali inflasi, terutama inflasi pangan yang merupakan bagian dari komponen harga bergejolak.
“Komponen volatile food itu sering menjadi penyumbang inflasi setiap bulannya. Jadi, sebagaimana arahan Bapak Presiden Jokowi, pemerintah secara bersama-sama tanpa henti terus-menerus akan menjalankan banyak instrumen pengendali inflasi pangan,” ucap Arief Prasetyo Adi dalam keterangan tertulis, Selasa (2/7/2024).
Baca Juga
BPS: Perubahan HET Beras Tak Berdampak ke Inflasi secara Langsung
Arief menjelaskan, selama semester I-2024, frekuensi kelompok harga bergejolak sebagai komoditas penyumbang inflasi secara bulanan merupakan yang paling sering muncul.
Dalam kurun Januari sampai Juni 2024, ada frekuensi kemunculan inflasi pangan bergejolak sebanyak empat kali yang berasal dari bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, dan ikan segar. Sedangkan mentara beras, cabai merah, dan telur ayam ras muncul tiga kali.
“Tentunya pencapaian yang merupakan hasil kolaborasi semua stakeholder pangan, salah satunya dapat terlihat pada historis inflasi tengah tahun. Di tengah 2022, inflasi komponen harga bergejolak sempat tinggi, yang kemudian terus kita tekan dan kendalikan, sehingga di tengah tahun 2024 mengendur,” ungkap Arief.
Dalam catatan BPS, inflasi tengah tahun banyak disumbang komoditas harga pangan bergejolak. Selama enam tahun, komponen harga bergejolak kerap berada di angka yang paling tinggi dibandingkan komponen harga inti dan harga diatur pemerintah.
Namun telah terjadi penurunan inflasi komponen harga bergejolak selama tahun berjalan (year to date/ytd). Pada inflasi pertengahan 2022, inflasi komponen harga bergejolak mendekati 8%. Angka itu menurun pada pertengahan 2023 menjadi sekitar 3,30%, dan kembali menurun pada 2024 menjadi 1,72%.
“Hal positif lainnya ada pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang beranjak naik kembali. Utamanya pada subsektor tanaman pangan, pada Juni 2024 ada kenaikan, sehingga kebijakan harga di tingkat produsen dari Bapanas cukup efektif menjaga kepentingan petani. Ke depan, kami akan terus menjaganya pula di tingkat pedagang dan konsumen,” tutur dia.
Baca Juga
Jokowi Apresiasi Kerja Keras TPI Pusat dan Daerah Kendalikan Inflasi
Arief mengemukakan, dalam menjalankan strategi pengendalian Inflasi pangan, Bapanas telah menginisiasi melalui berbagai program intervensi ke pasar dan masyarakat bersama BUMN dan stakeholder pangan lainnya.
Dia menambahkan, Gerakan Pangan Murah (GPM) sejak awal tahun telah mencapai 5.329 kali dengan rincian Januari 518 kali, Februari 839 kali, Maret 2.050 kali, April 1.006 kali, Mei 430 kali, dan Juni 486 kali.
Bapanas juga telah menugaskan Perum Bulog menggelontorkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke seluruh daerah yang realisasinya hingga 21 Juni mencapai 65,67% atau 788 ribu ton dari target 1,2 juta ton. Sedangkan realisasi beras SPHP yang disalurkan ke retail modern mencapai 32,9 ribu ton.

