Harga Plastik Meroket, Harga Beras dan Gula Ikut Terkerek
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Adanya fluktuasi dan distorsi pasokan bahan baku plastik dunia turut merambah ke pelaku usaha pangan pokok strategis domestik. Informasi yang dihimpun Badan Pangan Nasional (Bapanas), pelaku usaha bidang beras dan gula cukup terdampak karena kebutuhan kemasan karungan.
"Dengan adanya gejolak geopolitik, memang ada beberapa yang mengalami kenaikan. Salah satunya plastik karena ternyata biji plastik itu waste-nya dari pengolahan minyak bumi dan sumbernya dari Timur Tengah juga banyak," ungkap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/6/2026).
Sebagai antisipasi, Bapanas telah menyerap aspirasi dari para pelaku usaha pangan sektor beras dan gula. Dalam pertemuan terungkap imbas kurangnya pasokan plastik turut memengaruhi harga yang harus ditetapkan pelaku usaha.
"Terkait plastik, itu sudah kami rapatkan juga, jadi kita sudah ketemu dengan teman-teman. Begitu ada isu plastik mengalami kekurangan pasokan, kita diskusi, menghitung berapa dampaknya per kilo terhadap beras dan gula," kata Ketut.
"Teman-teman pelaku usaha menyampaikan kalau di beras (dampak kenaikan harganya, red) itu Rp 350 per kilogram. Kalau di gula sekitar Rp 150 per kilogram, artinya cukup berdampak dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya," imbuhnya.
Berdasar pemantauan harga oleh Bapanas, perkembangan rerata harga beras dan gula memang terdapat fluktuasi dalam sebulan terakhir. Akan tetapi masih dalam rentang harga yang wajar karena tidak sampai bergerak naik hingga 5% atau 10%.
Per 16 April, rerata harga beras medium terpantau masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika dibandingkan dalam sebulan terakhir, rerata harga beras medium Zona I dari Rp 12.964 per kilogram (kg) ke Rp 12.965 per kg atau berfluktuasi 0,01%. Zona II dari Rp 13.585 per kg ke Rp 13.622 per kg atau berubah 0,27% saja. Zona III dari Rp 15.056 per kg ke Rp 15.154 per kg atau terkerek 0,65%.
Baca Juga
Kumpulkan Industri Plastik Hulu-Hilir, Menperin Pastikan Stok Aman di Tengah Gejolak Konflik
Kendati rerata harga gula secara nasional dalam sebulan terakhir mencatatkan fluktuasi, terjadi penurunan di wilayah Indonesia Timur. Sekadar catatan, rerata harga gula di wilayah selain Indonesia Timur sebulan lalu tercatat di Rp 18.240 per kg. Kemudian per 16 April berada di harga Rp 18.615 per kg atau berubah 2,06%.
Namun di Indonesia Timur gula turun 1,22% dari sebulan lalu yang berada di harga Rp 20.412 per kg, ke harga Rp 20.163 per kg.
Ketut mengatakan Bapanas akan intensif berkoordinasi agar fluktuasi harga plastik tidak semakin melebar.
Ketersediaan suplai plastik untuk sektor pangan akan dipastikan bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.
"Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga akan bisa agak sedikit terkoreksi (naik). Kami juga merencanakan rapat besar, dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp 350 memang terasa kecil, tapi berdampak karena per kilonya jadi naik," ucap dia.
Terpisah, Kementerian Perindustrian menyatakan optimistis terhadap ketersediaan stok plastik dalam negeri. Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri hulu petrokimia, industri antara, industri hilir, hingga industri daur ulang plastik untuk membahas kondisi terkini serta langkah mitigasi bersama.
“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (16/4/2026).
Menurutnya, industri yang hadir juga menyatakan komitmennya untuk menjaga kesinambungan suplai plastik, khususnya bagi pelaku industri kecil. Ini penting agar produk-produk industri kecil tetap kompetitif di pasar.
Gejolak geopolitik di Selat Hormuz telah menyebabkan distorsi pada struktur harga produk plastik di dalam negeri. Penyesuaian harga dimungkinkan terjadi akibat kenaikan biaya logistik dan freight (kargo) pelabuhan, dan pengenaan surcharge (biaya tambahan) premium.
Selain itu, terdapat gangguan waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri. Waktu pengiriman yang sebelumnya sekitar 15 hari dapat menjadi lebih lama hingga dapat menjadi 50 hari, sehingga turut pula berkontribusi pada beban biaya produksi.

