Kadin Soroti 'Jobless Growth', Ekonomi Tumbuh Tapi Tenaga Kerja Tertinggal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti fenomena jobless growth di Indonesia, yakni pertumbuhan ekonomi tidak diiringi penyerapan tenaga kerja memadai. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi sektor padat karya yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Ketua Komite Tetap Hubungan Industrial Kadin Indonesia Subchan Gatot menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini belum berkualitas. Hal ini tercermin dari output industri yang meningkat, tetapi tidak diikuti peningkatan jumlah tenaga kerja.
“Ekonomi kita tumbuh, tetapi serapan tenaga kerja tidak seimbang. Artinya terjadi jobless growth dan kualitas pertumbuhan belum cukup kuat untuk mendorong sektor padat karya,” ujar dia dalam rapat bersama Komisi IX DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga
Buruh Bakal Gelar Aksi Unjuk Rasa di Kemenaker Besok, Ini Tuntutannya
Ia menjelaskan, tekanan global serta kenaikan biaya produksi mendorong relokasi industri ke negara lain, seperti Vietnam dan Kamboja. Salah satu faktor utama adalah tingginya biaya tenaga kerja di Indonesia yang dinilai kurang kompetitif.
Selain itu, struktur upah dinilai menjadi persoalan karena upah minimum kerap lebih tinggi dibandingkan kemampuan riil sektor padat karya. Ditambah kewajiban pesangon yang lebih besar dibandingkan negara pesaing, beban dunia usaha menjadi semakin berat.
“Upah minimum Indonesia lebih tinggi dari kemampuan riil sektor padat karya. Ditambah pesangon yang lebih besar dibanding negara lain, ini menjadi tekanan bagi industri,” tambahnya.
Di sisi lain, Kadin juga menyoroti rendahnya produktivitas dan kualitas tenaga kerja sebagai faktor penghambat. Sekitar 47 juta pekerja dinilai membutuhkan pelatihan ulang (reskilling), sementara literasi digital nasional baru mencapai 30%.
Ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri memperparah kondisi tersebut. Akibatnya, peluang kerja yang tersedia tidak sepenuhnya dapat diisi oleh tenaga kerja yang ada.
Baca Juga
Siap Hadapi Investigasi Tenaga Kerja oleh USTR, Menaker: Tak Spesifik Sasar RI
Dalam situasi ini, banyak perusahaan memilih bertahan melalui efisiensi ketimbang ekspansi. Langkah yang diambil, antara lain pengurangan tenaga kerja, otomatisasi, hingga penekanan biaya operasional. “Perusahaan bertahan lewat efisiensi, rasionalisasi tenaga kerja, otomatisasi, dan penekanan biaya tetap,” tegas Subchan.
Kadin mendorong reformasi regulasi ketenagakerjaan yang lebih adaptif dan berbasis data. Keseimbangan antara perlindungan tenaga kerja dan fleksibilitas usaha dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan daya serap tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global.

